RSS

Perbaikan Mutu Biji Kakao Indonesia dengan Penerapan Teknik Fermentasi

15 Nov

Indonesia merupakan salah satu negara pembudidaya tanaman kakao paling luas di dunia dan termasuk negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu dan citra kakao Indonesia adalah dengan menerapkan standar baku proses pengolahan biji kakao petani, diantaranya adalah teknologi fermentasi. Fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao.  Proses ini tidak hanya bertujuan untuk melepaskan biji kakao dari pulp dan mematikan biji, namun terutama juga untuk memperbaiki dan membentuk citarasa cokelat yang enak dan menyenangkan serta mengurangi rasa sepat dan pahit pada biji.

Tingkatan Fermentasi

 

Fermentasi yang dilakukan oleh petani pada umumnya tidak memadai dan menyebabkan kadar biji tak terfermentasi (slatty) cukup tinggi. Biji yang tidak terfermentasi ditandai dengan ciri-ciri bertekstur pejal, berwarna slatty (keabu-abuan), tidak memiliki rasa khas cokelat yang didominasi rasa sepat dan pahit. Biji semacam ini hanya dapat dikelompokkan menjadi mutu terendah, yaitu  mutu 3 menurut SNI Biji Kakao (SNI 01-2323-2002). Biji Kakao yang kurang fermentasi ditandai dengan ciri-ciri berwarna ungu, bertekstur pejal, didominasi oleh rasa pahit dan sepat, serta sedikit citarasa cokelat. Biji kakao yang difermentasi dengan baik akan bertekstur agak remah atau mudah pecah, warna keping biji cokelat sampai cokelat dengan sedikit warna ungu, citarasa pahit dan sepat tidak dominan, dan tentunya berkualitas baik. Sedangkan biji kakao yang kelebihan fermentasi akan sangat mudah pecah, berwarna keping cokelat sampai cokelat tua, kurang memiliki rasa pahit dan sepat, citarasa cokelat kurang (apek; hammy; dan mouldy), serta serat permukaan bijinya banyak ditumbuhi jamur.

Fermentasi dapat dilakukan dengan beberapa metode :

Fermentasi dalam tumpukan

Fermentasi tumpukanMetode fermentasi dalam tumpukan dilakukan dengan cara menimbun atau menumpuk biji kakao segar di atas daun pisang hingga membentuk kerucut. Permukaan atas tumpukan biji ditutup dengan daun pisang atau karung goni atau penutup lainnya yang memungkinkan udara masuk. Penutupan berfungsi untuk mencegah pembuangan panas yang terlalu besar. Pada metode ini, pekebun dianjurkan untuk melakukan fermentasi selama 6 hari dengan pengadukan sebanyak dua kali. Keuntungan metode fermentasi dalam tumpukan adalah penggunaannya yang sederhana dan tidak membutuhkan wadah khusus sehingga mudah dilakukan oleh petani. Namun, karena dilakukan hanya diatas daun pisang, fermentasi harus dilakukan di tempat teduh dan terlindung dari hujan dan cahaya matahari langsung serta perlu dijaga dari kemungkinan biji menjadi kotor oleh tanah.

Fermentasi dalam keranjang

Pada metode ini, biji segar hasil panen dimasukkan ke dalam keranjang bambu atau rotan yang telah dilapisi daun pisang dengan kapasitas lebih dari 20 kg. Permukaan biji ditutup dengan daun pisang atau karung. Fermentasi  dal am keranj ang membutuhkan perlakuan pengadukan yang harus dilakukan setelah 48 jam (2 hari) fermentasi. Caranya adalah dengan memindahkan biji ke keranjang lain atau diaduk di tempat yang sama kemudian ditutup kembali dan dibiarkan hingga proses fermentasi selesai. Lama fermentasi tidak boleh melebihi 7 hari. Keuntungan penggunaan fermentasi dengan cara ini adalah wadah mudah didapat, pengadukan mudah dilakukan, mudah dipindah-pindah, dan biji bisa terhindar dari kotor akibat bersentuhan fisik dengan tanah.

Fermentasi dalam kotak

Kotak fermentasiFermentasi ini melibatkan penggunaan kotak kayu yang kuat dilengkapi dengan lubang-lubang di dasar kotaknya yang digunakan sebagai pembuangan cairan fermentasi atau lubang untuk keluar masuknya udara (aerasi) (Gambar 3.). Biji dalam kotak fermentasi ditutup dengan daun pisang atau karung goni. Tujuannya adalah untuk mempertahankan panas. Selanjutnya diaduk setiap hari atau setiap dua hari setelah 48 jam (2 hari) proses fermentasi berlangsung. Biji kering yang dihasilkan dari kotak dengan pembalikan atau pengadukan setiap hari memiliki derajat fermentasi yang baik, tetapi tingkat keasamannya tinggi sehingga cenderung kurang disukai pabrikan cokelat. Kotak fermentasi banyak digunakan oleh perkebunan-perkebunan besar dengan kapasitas besar, yaitu sekitar 1.000 kg/kotak dengan kedalaman kotak sekitar 90 cm. Pada metode fermentasi dengan menggunakan kotak yang kedalamannya kurang dari 42 cm, pengadukan cukup dilakukan sekali saja, yaitu setelah dua hari fermentasi. Metode fermentasi kotak ini menghasilkan biji dengan derajat fermentasi yang baik dan tingkat keasaman yang lebih rendah dari kotak dengan kedalaman lebih dari 42 cm.

Petani pekebun juga menggunakan kotak fermentasi dengan kapasitas yang lebih kecil, tetapi hasilnya menyerupai kotak berkapasitas besar. Akan tetapi, karena kapasitasnya yang kecil, kayu yang digunakan harus cukup tebal (>2,5 cm). Tujuannya adalah untuk mengisolasi panas yang dihasilkan dari massa kakao hingga suhu 45 C selama paling tidak 24 jam dapat tercapai. Kedalaman kotak yang digunakan maksimum 40 cm agar proses pengasaman biji yang terjadi tidak terlalu kuat. Dinding dan dasar kotak diberi lubang-lubang aerasi dengan jarak 10 cm antarlubang. Fermentasi sebaiknya diakhiri setelah 5 hari dan tidak boleh lebih dari 7 hari. Biji kakao yang telah difermentasi harus segera dikeringkan untuk mendapatkan hasil fermentasi yang cukup baik.

Fermented beansBeberapa tanda yang dapat digunakan untuk menentukan bahwa fermentasi telah selesai adalah: Biji tampak agak kering (lembap), berwarna cokelat dan berbau asam cuka; lendir mudah dilepaskan; dan bila  dipotong melintang, penampang  biji tampak seperti cincin berwarna cokelat. Adanya kecenderungan peningkatan tingkat konsumsi kakao dunia dan jumlah grinding dunia (industri pengolah biji kakao menjadi bahan setengah jadi) bisa menjadi peluang yang besar dan prospektif bagi peningkatan produksi dan kualitas biji kakao Indonesia. Saat ini Industri cokelat dalam negeri masih kesulitan mendapatkan biji kakao berkualitas baik sehingga terpaksa harus impor dari Afrika. Apabila kualitas biji kakao Indonesia bisa ditingkatkan, maka hal ini akan menjadi peluang untuk menggantikan impor biji kakao dari Afrika tersebut dan peluang peningkatan industri cokelat dalam negeri. (Eko Heri Purwanto/ Tree Vol. 2 No. 5, Mei 2011)

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: