RSS

Harmonisasi Standar Mutu Lada Indonesia

19 Oct

Standar Mutu Lada Indonesia mencerminkan kualitas lada yang dihasilkan oleh petani lada di Indonesia. Adanya perbedaan standar mutu yang diterapkan oleh negara pengekspor dan pengimpor lada dapat menyebabkan hambatan teknis dalam perdagangan yang berupa penolakan dari negara pengimpor karena tidak sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan. Untuk meningkatkan nilai ekspor lada maka standar mutu tersebut harus diharmonisasikan dengan spesifikasi yang diminta oleh negara konsumen.

      Lada merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan luas penggunaannya. Hampir semua masyarakat di seluruh dunia dipastikan sudah pernah mengenyam pedas maupun harumnya masakan yang dibubuhi lada. Sudah sejak lama, lada menjadi bahan perdagangan atau komoditas ekspor penting antar bangsa.
Komoditas lada mempunyai peranan strategis tidak hanya secara ekonomis, akan tetapi juga secara historis, sosiologis maupun geografis. Di tingkat dunia, lada indonesia dikenal mempunyai citra rasa dan aroma yang khas dengan brand “ Muntok White Pepper “ dan “ Lampung Black Pepper“. Lada memberikan kontribusi terhadap perolehan devisa negara sebesar US$ 55.637- 132.497 juta/th (periode 2004 – 2008). Hampir seluruh usaha lada (99,90%) dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat yang dimiliki oleh ±325 ribu KK. Apabila satu KK memiliki 5 anggota keluarga maka usaha lada menghidupi 1,6 juta orang, belum termasuk yang terlibat dalam perdagangan dan industri (A. Mangga Barani, 2011)
Tingginya nilai ekspor rempah-rempah Indonesia menunjukkan bahwa sektor ini mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai penghasil devisa negara dari sektor nonmigas. Komoditas lada hitam dan lada putih menempati posisi tertinggi nilai ekspor Indonesia untuk sektor rempah-rempah yang diikuti oleh pala, kayumanis, kapulaga dan cengkeh.
Sejalan dengan meningkatnya penggunaan lada, perhatian terhadap keamanan pangan dan kebersihan meningkat. Negara-negara industri cenderung memperketat aturan dan pengawasan terhadap kebersihan dan kontaminasi pada lada. Hanya produk lada yang aman, sehat, dan memiliki daya saing yang kuat terutama dari segi mutu dan harga yang akan berpeluang meraih pasar. Meningkatnya kepedulian negara-negara konsumen terhadap keamanan produk pangan termasuk lada akan menyebabkan kendala dalam ekspor. Negara-negara produsen yang tidak meningkatkan mutu produksinya dikhawatirkan tidak akan dapat mensuplai negara pengimpor lada.

Revisi Standar Mutu untuk Peningkatan Nilai Ekspor
Terdapat sedikitnya dua upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas ekspor lada. Cara pertama adalah dengan mendorong volume atau nilai ekspor Indonesia. Cara ini merupakan strategi yang sifatnya pre-market dan pull-market, artinya strategi tersebut dilakukan sebelum produk masuk pasar/konsumen dan menghasilkan suatu permintaan pasar. Cara yang kedua adalah mengurangi semaksimal mungkin ekspor lada yang mengalami penolakan di negara tujuan ekspor. Semakin sedikit produk nasional yang ditolak di negara tujuan ekspor maka akan semakin menambah volume/nilai ekspor. Konsekuensinya adalah termasuk meminimalisir berbagai faktor penyebab terjadi penolakan tersebut. Berbagai faktor penyebab tersebut merupakan hambatan atau halangan yang dihadapi para produsen dan eksportir nasional selama ini dan hal ini yang harus diupayakan solusi yang tepat.
Seperti diketahui bahwa standardisasi dan peraturan teknis untuk industri adalah sangat penting, namun setiap negara mempunyai kebijakan yang berbeda-beda, sehingga terkadang pihak importir atau eksportir mengalami kesulitan dalam melakukan perdagangan. Seringkali peraturan teknis dan standardisasi tersebut digunakan sebagai cara untuk melakukan proteksionisme dan menghambat perdagangan internasional. Oleh sebab itu, persetujuan hambatan-hambatan teknis dalam perdagangan perlu diatur sedemikian rupa sehingga regulasi teknis, standar, prosedur penilaian kesesuaian di tingkat domestik tidak menjadi hambatan bagi perdagangan internasional (Kristianti, E. dan R. Lukiawan, 2010)
Standar Nasional Indonesia dirumuskan dengan tujuan untuk melindungi konsumen dan membantu produsen dalam negeri meningkatkan nilai ekspor dari produknya. Untuk sektor rempah-rempah, khususnya produk lada, SNI yang terkait telah berjalan lebih dari 5 tahun. Dalam Pedoman Standardisasi ( PSN 01-2007 tentang Pengembangan Standar Nasional Indonesia), disebutkan bahwa Panitia teknis atau subpanitia teknis berkewajiban memelihara SNI dengan melaksanakan kaji ulang sekurang-kurangnya satu kali dalam 5 (lima) tahun setelah ditetapkan, untuk menjaga kesesuaian SNI terhadap kebutuhan pasar dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka memelihara dan menilai kelayakan dan kekinian SNI. Pada tahun 2010 BSN (Badan Standardisasi Nasional) telah mengkaji-ulang 32 SNI sektor pertanian dan produk pertanian lainnya. Berdasarkan kaji ulang tersebut 31 SNI direkomendasikan untuk direvisi, termasuk diantaranya : SNI Lada Putih 01-0004-1995 dan SNI Lada Hitam 01-0005-1995.
Setiap lada yang diekspor harus memenuhi standar dari negara pengekspor. Namun demikian eksportir juga harus mempertimbangkan persyaratan mutu yang berlaku di negara pengimpor. Mengingat standar nantinya menjadi salah satu hambatan dalam perdagangan, maka dengan harapan untuk memperlancar kegiatan ekspor, standar nasional harus diharmonisasikan dengan standar internasional atau dengan peraturan teknis negara tujuan ekspor agar tidak terjadi penolakan.
Revisi Standar adalah kegiatan penyempurnaan Standar Nasional Indonesia atau Persyaratan Teknis Minimal bidang pertanian sesuai dengan kebutuhan. Revisi SNI ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan persyaratan negara tujuan ekspor. Beberapa negara tujuan ekspor potensial lada Indonesia seperti Amerika, Jerman, Singapura, Jepang dan Inggris mempersyaratkan kandungan mikrobia dalam batas tertentu untuk Salmonella dan E. Coli. Sehingga dalam merevisi dapat memperhatikan penambahan atau merevisi persyaratan kedua cemaran mikroba tersebut.
Sebagian besar lada di Indonesia diekspor ke Amerika dan Eropa. Lada yang diekspor ke Amerika harus memenuhi spesifikasi dari ASTA (American Spice Trade Association) dan USFDA (United State Food and Drug Administration) dan selalu akan diperiksa pada waktu masuk di US. Pengiriman yang tidak sesuai dengan hukum dan aturan-aturan tersebut akan ditolak. Sedangkan lada yang diekspor ke negara-negara Uni Eropa harus memenuhi standar dan persyaratan teknis dari ESA (Europe Standard Association). Selain itu, International Standard Organization (ISO) juga mengeluarkan standar mutu yang berlaku secara internasional. Untuk itu hendaknya standar mutu lada Indonesia diselaraskan dengan standar ISO, ASTA dan ESA karena pasar potensial lada adalah negara-negara Amerika dan Eropa.
Negara-negara penghasil lada yang tergabung dalam organisasi internasional yang bernama ”International Pepper Community” (IPC), bersama dengan negara-negara konsumen (importir) dan para eksportir lada, telah merancang suatu standar mutu internasional untuk lada putih dan hitam dengan parameter yang ditentukan bersama pada sidang-sidang tahunan IPC yang diharapkan dapat menyamakan persepsi mengenai mutu lada yang baik diantara negara produsen serta memenuhi keinginan dari negara-negara konsumen lada.

Kerapatan (Bulk Density)
Kerapatan (Bulk Density) merupakan bobot lada dalam satu-satuan volume (liter) dengan tetap memperhitungkan rongga antar bahan atau volume ruah. Dalam perdagangan lada, salah satu ukuran utama yang digunakan untuk menentukan mutu lada adalah kerapatannya atau Bulk Density. Semakin besar angka kerapatan lada dengan kadar air yang sama menunjukkan lada tersebut semakin berat atau bernas dan sedikit lada enteng. Penjual mempromosikan lada dengan menyebutkan angka kerapatan lada tersebut atau ketika pembeli akan menentukan harga jual/mutu lada maka akan diukur melalui kerapatannya.
Pada SNI Lada Putih 01-0004-1995 mutu I dan mutu II tidak dicantumkan mengenai persyaratan kerapatan padahal kerapatan merupakan parameter mutu yang utama. Sedangkan standar minimal kerapatan untuk ASTA sebesar 630 g/l, IPC mutu I 600 g/l, ISO 490 g/l dan ESA tidak menetapkan angkanya, tergantung kesepakatan.
Dalam SNI Lada Hitam 01-0005-1995 mutu I dan II juga tidak dicantumkan persyaratan kerapatan minimum lada hitam. Sedangkan standar ASTA menetapkan minimum 570 g/l, IPC 550 g/l dan ISO 490 g/l. Standar ESA tidak menetapkan angkanya, tergantung kesepakatan penjual dan pembeli.

Kadar Air (Moisture Content)
Kadar air bahan merupakan kunci dari penyimpanan bahan pangan yang aman. Semua aktivitas biologis hanya dimungkinkan jika ada air. Perkecambahan dapat terjadi jika ada cukup air. Kadar air bahan sangat berkaitan erat dengan kelembaban relatif (RH) lingkungan.
Kadar air yang aman untuk penyimpanan adalah kadar air rendah, jika kadar air bahan pangan tinggi harus dikeluarkan biaya untuk pengeringan dan beresiko dalam penyimpanan.
Mempertahankan kadar air pada tingkat rendah selama penyimpanan tidak hanya mencegah pengembangan kerusakan lebih lanjut tetapi juga menghambat penyebaran mikroorganisme dan serangga. Kadar air lada di bawah 12% dinilai cukup aman untuk penyimpanan.
Kadar air juga merupakan parameter utama mutu lada putih dan lada hitam yang menunjukkan tingkat pengolahan yang baik terutama dari segi pengeringan dan menentukan umur simpan biji lada. Tahap yang menentukan untuk memperoleh kadar air lada yang rendah adalah pengeringan. Pengeringan merupakan proses pengeluaran air dari suatu bahan sehingga mencapai kadar air tertentu dimana mutu bahan tersebut dapat terhindar dari serangan jamur, aktivitas serangga dan enzim.
Pengeringan perlu dilakukan dengan hati-hati, karena pengeringan dalam waktu yang lama dan lambat dapat menyebabkan bahan berjamur dan busuk. Pada kondisi cuaca yang baik dan cerah digunakan pengeringan dengan sinar matahari (3-5 hari) sedangkan jika cuaca kurang baik maka digunakan alat pengering buatan tipe bak dengan sistem pemanasan tidak langsung (4-8 jam). Faktor penting yang harus diperhatikan pada pengeringan lada putih adalah harus dilakukan dalam beberapa tahap (interval waktu) dan dengan suhu antara 45º-60ºC. Faktor lain yang mempengaruhi kadar air ialah jenis kemasan karena kemasan yang digunakan akan melindungi bahan dari pengaruh kelembaban.
Penentuan kadar air lada adalah jumlah air yang dipisahkan dengan cara destilasi dengan menggunakan pelarut organik (toluen) yang tidak bercampur dengan air dan ditumpang dalam trap berukuran.
Menurut SNI Lada Putih 01-0004-1995 syarat kadar air maksimum lada putih mutu I 13 % dan mutu II 14%; sedangkan syarat kadar air maksimum lada putih ASTA 13% , ESA 12%, IPC 13% dan ISO 13%. Dengan demikian kadar air lada yang ditetapakan SNI ini masih memenuhi persyaratan ASTA, IPC dan ISO tetapi belum memenuhi standar ESA yang ditelah direvisi pada bulan Mei 2003 (http://www.peppertrade.com.br/stdspepper.htm#ESA).
Dalam SNI Lada Hitam 01-0005-1995 persyaratan kadar air maksimum lada hitam mutu I 12% dan mutu II 13,5%; sedangkan syarat kadar air maksimum lada hitam ASTA 12%, ESA 12%, IPC 12% dan ISO 13%.

Biji Enteng (Light Berries)
Biji enteng adalah hasil samping dari pengolahan lada putih yang mempunyai bobot lebih ringan dari pada bobot normal lada putih, yang disebabkan karena dipetik muda atau buah tidak normal tumbuhnya, dengan sifat yang mengapung dalam larutan alkohol – air (Berat Jenis 0,80 – 0,82).
SNI Lada Putih 01-0004-1995 mensyaratkan kadar biji enteng maksimal untuk mutu I sebesar 1 % dan mutu II 2 %. Untuk syarat kadar biji enteng maksimal IPC mutu I sebesar 1% dan mutu II 2 %; sedangkan ASTA, ESA dan ISO tidak mencantumkan untuk lada putih.
Dalam SNI Lada Hitam 01-0005-1995 persyaratan kadar biji enteng maksimum lada hitam mutu I 2% dan mutu II 3%; sedangkan syarat kadar biji enteng maksimum lada hitam ASTA 2%, IPC mutu I sebesar 2% dan mutu II 10 %; ISO 5 % untuk lada hitam processed (P) dan 10% untuk lada hitam semi processed (SP).

Kadar Benda Asing ( Extraneous Matter)
Benda-benda asing adalah benda-benda lain selain biji lada putih baik yang berasal dari tanaman lada misalnya tangkai, kulit dan daun maupun bahan lain seperti biji-bijian lain, tanah, batu-batuan dan pasir.
Untuk memperoleh lada dengan kadar benda asing rendah maka proses penanganan pascapanen lada harus dilakukan dengan higienis, menghindarkan penghamparan lada di tanah tanpa alas atau penjemuran di pinggir jalan. Pengemasan buah yang segar maupun yang kering menggunakan karung yang bersih.     Penggunaan alat perontok lada dan mesin sortasi dapat menekan seminimal mungkin kadar benda asing dalam produk lada.
Menurut SNI Lada Putih 01-0004-1995 syarat kadar benda asing maksimum lada putih mutu I 1% dan mutu II 2%; sedangkan syarat kadar benda asing maksimum lada putih ASTA 0,5% ; ESA 1%; IPC 1% dan ISO 1,5%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa persyaratan kadar benda asing yang ditetapkan SNI ini belum memenuhi standar ASTA.
Dalam SNI Lada Hitam 01-0005-1995 persyaratan kadar benda asing maksimum lada hitam mutu I 1% dan mutu II 1%; sedangkan syarat kadar benda asing maksimum lada hitam ASTA 1%, ESA 1%, IPC 1% dan ISO 1,5%. Dari data ini menunjukkan bahwa persyaratan kadar benda asing yang ditetapkan SNI ini masih memenuhi standar internasional.

Kadar Lada Berwarna Kehitam-hitaman (Black Berries)
Lada berwarna kehitam-hitaman adalah lada putih yang berwarna lebih gelap dari lada putih keabu-abuan dan putih kecoklat-coklatan dilihat dengan mata langsung. Warna lada putih yang normal adalah putih kekuning-kuningan, putih keabu-abuan atau putih kecoklat-coklatan.
Dalam SNI Lada Putih 01-0004-1995 persyaratan kadar lada berwarna kehitam-hitaman maksimal lada putih mutu I adalah 1% dan mutu II 2% sedangkan persyaratan IPC 1% dan ISO 4% untuk lada putih processed (P) dan 7% untuk lada putih semi-processed (SP). ASTA dan ESA tidak mensyaratkan untuk kadar lada berwarna kehitam-hitaman.

Kadar Cemaran Kapang (Mouldy Berries)
Cemaran kapang adalah biji lada putih yang ditumbuhi kapang yang dapat dilihat dengan mata normal. Penentuannya dengan pemisahan lada yang terkontaminasi kapang secara visual, lada dianggap berkapang jika tercemar kapang yang dapat dilihat dengan mata biasa.
Menurut SNI Lada Putih 01-0004-1995 dan SNI Lada Hitam 01-0005-1995 syarat kadar cemaran kapang maksimum lada putih dan hitam mutu I dan II sama sebesar 1%; sedangkan syarat kadar cemaran kapang maksimum lada putih ASTA, ESA, dan IPC juga sama sebesar 1% sehingga persyaratan cemaran kapang dalam SNI ini masih relevan dengan standar internasional.

Cemaran Serangga (Whole Insect, Dead or Alive)
Cemaran serangga adalah keadaan lada yang ditentukan ada tidaknya serangga, baik hidup maupun mati serta bagian-bagian yang berasal dari serangga.
SNI Lada Putih 01-0004-1995 dan SNI Lada Hitam 01-0005-1995 mensyaratkan untuk cemaran serangga lada putih mutu I dan II yaitu bebas dari serangga hidup maupun mati serta bagian-bagian yang berasal dari binatang. Untuk syarat kadar cemaran binatang standar IPC adalah Tidak lebih dari 2 buah dalam tiap sub-sampel dan tidak lebih 5 pada total sub-sampel sedangkan ESA mensyaratkan lada putih dan hitam bebas dari cemaran serangga mati atau hidup, bagian serangga dan cemaran binatang pengerat yang terlihat mata langsung. Persyaratan cemaran serangga dalam SNI ini masih relevan dengan persyaratan internasional.

Kadar Abu Total (Total Ash) dan Abu Larut Asam (Ash Insoluble Acid)
Kadar abu total adalah kandungan bahan yang tersisa setelah dipanaskan kurang lebih 5500 C yang menunjukkan kandungan garam mineral bahan atau bahan anorganiknya. Prinsip penentuannya dengan perusakan bahan organik dengan mengabukan contoh pada suhu 5500C + 250C.
Dalam SNI Lada Putih 01-0004-1995 dan SNI Lada Hitam 01-0005-1995 tidak dicantumkan persyaratan kadar abu total dan abu larut asamnya sedangkan pada standar ASTA, ESA dan ISO diberikan persyaratan minimum 3,5% untuk kadar abu total lada putih dan 0,3% untuk abu larut asam lada putih (ESA 1,5%). Standar kadar abu total ASTA dan ESA minimum sebesar 7% dan ISO 6%. Agar sesuai dengan standar internasional sebaiknya dicantumkan kadar abu pada SNI lada putih dan hitam.

Kadar Piperin (Piperine) dan Minyak Atsiri (Volatile Oil)
Piperin dan Minyak atsiri adalah komponen utama lada dan merupakan salah satu komoditas perdagangan yang digunakan sebagai bahan penting untuk industri obat-obatan dan flavoring agent dalam bahan makanan atau minuman.
Pemisahan minyak atsiri dengan cara destilasi, dengan menggunakan air sebagai pelarut. Penentuan kadar piperin dilakukan dengan cara ekstraksi dengan etanol kemudian dilakukan pengukuran absorbant pada panjang gelombang 343 nm dengan alat spektrofotometer ultraviolet.
Persyaratan kadar piperin dan minyak atsiri dalam SNI Lada Putih 01-0004-1995 hanya mencantumkan sesuai hasil analisa sedangkan pada standar ASTA dan ISO persyaratan kadar minimal piperin adalah 4% dan kadar minimal minyak atsiri untuk standar ASTA dan ESA sebesar 1,5%.
Dalam SNI 01-0005-1995 lada hitam juga hanya disyaratkan mencantumkan sesuai hasil analisa sedangkan standar ASTA, ESA dan ISO untuk piperin lada hitam minimal adalah 4% dan minyak atsiri minimal 2% dan 1% (ISO).

Cemaran Mikrobia
Kontaminasi mikroorganisme merupakan salah satu issue terutama dalam keamanan produk (pangan) selain kontaminasi aflatoksin dan residu pestisida. Selama Agustus 2003 sampai Juli 2004, ada 83 pengiriman lada dari berbagai negara yang mengalami penahanan (detained) oleh USFDA (US Food and Drug Administration), 62,7% disebabkan karena adanya Salmonella, 31,3% karena adanya Salmonella dan kotoran 3,6% karena adanya kotoran dan 2,4% karena sebab-sebab lain seperti pemberian label yang kurang jelas. Dari data di atas jelas 94% lada yang ditahan oleh USFDA adalah karena adanya Salmonella. Masalah utama yang sering dikeluhkan oleh importir rempah Eropa terhadap produk lada Indonesia yaitu tingginya kadar kotoran dan kontaminasi mikroorganisme (Nurdjannah, 2006)
Perlakuan-perlakuan pendahuluan pada pengolahan lada seperti blanching (800C, 2,5-5 menit) dan pencucian serta proses yang bersih/higienis (perendaman dengan air bersih dan mengalir) dapat menurunkan kadar kontaminasi oleh mikroorganisme. Demikian pula halnya proses pengolahan secara masinal yang terdiri dari alat perontok, pengupas, pengering dan sortasi lada dapat menurunkan jumlah mikroba.
Standar internasional menaruh perhatian besar terhadap cemaran mikrobia dalam bahan rempah ASTA, ESA dan IPC mensyaratkan lada putih dan hitam bebas dari cemaran Salmonella sp. per 25 gram sampel dan Escherichia coli maksimum 3 Cfu/g. Dalam SNI Lada Putih 01-0004-1995dan SNI 01-0005-1995 lada hitam belum dicantumkan persyaratan untuk cemaran mikrobia tersebut.

Kandungan Residu Pestisida
Kandungan bahan kimia atau residu pestisida dalam bahan pangan juga menjadi isu utama keamanan pangan dan kesehatan negara-negara maju sehingga dijadikan persyaratan teknis untuk masuknya bahan pangan ke negara-negara maju tersebut.
Untuk Indonesia persyaratan kandungan maksimum residu pestisida dalam bahan pangan hasil pertanian termasuk lada sudah diatur dalam Keputusan Bersama No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996 dan Nomor 711/Kpts/TP.270/8/1996 tentang Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian sehingga hasil pertanian yang akan diekspor atau diimpor oleh Indonesia harus memenuhi peraturan tersebut.

Penutup
Sesuai dengan rekomendasi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk merevisi SNI Lada Putih 01-0004-1995 dan SNI Lada Hitam 01-0005-1995 yang telah berumur lebih dari 10 tahun, maka diperlukan harmonisasi standar mutu lada Indonesia dengan standar mutu Internasional dan yang diberlakukan oleh negara-negara pengimpor lada utama.
Adopsi standar mutu dan persyaratan teknis minimal dari negara-negara pengimpor lada yang semakin ketat melakukan pengawasan terhadap jaminan mutu, keamanan pangan, kebersihan dan kesehatan adalah dalam hal spesifikasi fisik, kimia dan mikrobiologi.
Untuk menghasilkan lada dengan kualitas yang memenuhi spesifikasi internasional maka diperlukan peningkatan adopsi penerapan GAP (Good Agriculture Practice) pada budidaya lada oleh petani, GHP (Good Handling Practice) pada penanganan pascapanen dan GMP (Good Manufacture Practice) pada tahap pengolahan lada. (Eko Heri Purwanto /Balittri)

Daftar Pustaka
Ahmad Mangga Barani, 2011. Grand Skenario Revitalisasi Lada. http://www.babel.litbang.deptan.go.id.
Kristianti, E. dan R. Lukiawan, 2011. Kajian Standar Sektor Rempah-rempah Terkait dengan Penolakan Produk dalam Mendukung Peningkatan Ekspor Indonesia. Jurnal Standardisasi Vol. 13, No. 1 Tahun 2011: 26 – 35.
Nurdjannah, N., 2006. Perbaikan Mutu Lada untuk Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia. Jurnal Perspektif Vol. 5 Tahun 2006 : 13 – 25

 
3 Comments

Posted by on October 19, 2012 in Agriculture Product

 

Tags: , , , ,

3 responses to “Harmonisasi Standar Mutu Lada Indonesia

  1. Hamdani Isman

    March 26, 2014 at 9:42 am

    Salam mas. Apakah tulisan tentang “Harmonisasi Standar Mutu Lada Indonesia” sudah pernah diterbitkan/ dipublikasikan? Soalnya saya ingin menjadikannya referensi.

     
    • ekohappy

      February 9, 2015 at 1:47 pm

      Ya pak sudah. Saya tulis di Warta Puslitbang Perkebunan Vol. 17 No. 3 Th. 2011. Silahkan Pak..

       
  2. Don

    May 16, 2015 at 12:34 am

    Terima kasih untuk infonya.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: